Tentang Lagu-lagu Epik Terbaik
Tim wartawan majalah musik Inggris, Mojo, dalam edisi bulan April 2004 memuat 50 lagu rock epik (maha gegap gempita) terbaik sepanjang masa. Tidak berlebihan jika urutan lima teratas diduduki Bohemian Rhapsody (Queen), diikuti Stairway To Heaven (Led Zeppelin), Sympathy For The Devil (Rolling Stones), Shine On You Crazy Diamond (Pink Floyd), dan The End (The Doors).
Jelaslah bahwa rock klasik tahun 1970-an masih mendominasi. Dan Rhapsody layak dianggap sebagai yang terbaik karena nomor yang berdurasi lima menit dan 59 detik ini digarap dengan sengaja untuk menjadi lagu "rock opera" yang megah dan dramatis.
Di pembuka lagu, Freddie Mercury bertanya, "Is this the real life/is this just fantasy?"Ia lalu mengaku ("Mama, just killed a man"), diikuti oleh sebuah parade karakter dan frase-frase sejarah yang bernama aneh (Scaramouche, Galileo, Beelzebub, Figaro, Mama Mia, dan Magnifico).
Dan tentu saja ada solo gitar Brian May yang dianggap sebagai yang paling enak dicontoh setiap orang untuk berpura-pura menjadi jagoan gitar (air gitar). Itu misalnya terjadi dalam film Wayne’s World (1992) yang dibintangi oleh Mike Myers yang bersama teman-temannya memperagakan "permainan gitar" dan entakan kepala ketika mendengarkan Rhapsody di mobil mereka.
"Waktu itu Freddie berada di puncak kreasinya, ia benar-benar sedang melambung ke udara," kenang penabuh drum Queen, Roger Taylor. "Kami tahu lagu ini sama seperti halnya sebuah teka-teki yang sulit dipecahkan, khususnya dalam bagian operanya. Namun, sepanjang proses pembuatan, Freddie selalu mengetahui apa yang harus dilakukan," lanjut Taylor.
Rhapsody diproduseri oleh Roy Thomas Baker di enam studio dalam sesi-sesi pembuatan album A Night At The Opera (1975). Ia juga menjadi ajang percobaan gila-gilaan dari ketersediaan teknologi kala itu karena Queen merekam 120 vokal latar di mesin rekaman 24 trek.
"Rekaman vokal latar saja menghabiskan waktu selama satu minggu," kata Taylor. "Dan seluruh vokal itu kami rekam dengan suara kami bertiga selama sehari penuh setiap hari! Ketika selesai rekaman, kami tahu ini magnum opus dan akan sukses sebagai sebuah singel," lanjut Taylor.
Ketika dirilis, singel Rhapsody langsung melejit ke urutan teratas tangga lagu di Inggris dan bertahan selama sembilan pekan. Beberapa lama kemudian, Queen membuat klip video yang menghabiskan dana hanya 4.500 poundsterling dengan mengandalkan fotografi yang khas itu, yang dijadikan sampul album Queen II yang dirilis beberapa tahun sebelumnya.
Padahal, jika dirunut ke belakang, karier Queen nyaris mati bahkan sebelum lahir. Pada konser pertama mereka pada tahun 1971 di Bedford, tidak ada yang menyaksikan. Sepanjang periode 1971-1973, Queen sempat beberapa kali berencana mau ganti nama supaya lebih populer sekaligus untuk "buang sial".
Salah satu nama yang muncul adalah The Rich Kids. Taylor mengusulkan nama yang panjang, Topfactnewsandinfo. "Bahwa nama itu terlalu panjang, membuat nasib kami mungkin bisa lebih buruk lagi," kenang Taylor.
Pemetik bas, John Deacon, memprotes usulan nama dari Mercury: The Grand Dance karena kata "dance" berkonotasi buruk di kota kelahiran dia, Leichestershire. Apa pun, ketika mencoba nasib dengan tur ke mancanegara, atau merilis album pertama tahun 1973, Queen belum beranjak banyak dari tempatnya yang rendah.
Baru ketika mereka membuat album kedua, Queen II, tampak tanda-tanda positif. "Album itu menjadi langkah penting bagi kami di dunia rekaman. Di periode inilah kami menuju ke arah Rhapsody," kata May. "Jika kami gagal lagi di album kedua, tidak ada jaminan kami melanjutkan ke album ketiga," kata Taylor.
Keberuntungan Queen ada di Mercury. Nama aslinya Farookh Bulsara, tetapi digantikan menjadi Freddie Mercury ketika keluarga Bulsara pindah ke Inggris dari Zanzibar. Kebetulan, keluarga Mercury tinggal di daerah yang sama dengan keluarga May.
Mercury masuk ke Ealing College Of Arts yang juga pernah disinggahi oleh Pete Townshend (gitaris The Who) dan Ron Wood (gitaris Rolling Stones). Mercury ketika itu tergila-gila kepada musik Jimi Hendrix, penampilan Marlyn Monroe di layar lebar, dan penampilan elegan George Best di kesebelasan Manchester United.
Pada periode setelah Queen II dirilis tahun 1974 dan sebelum A Night At The Opera dirilis tahun 1975, Mercury sudah memperlihatkan kehebatan dirinya sebagai penghibur yang pandai bernyanyi dan beraksi. "Saat itu Freddie memperlihatkan ototnya dengan bernyanyi sembari bermain piano. Dua lagu karangan dia, Fairy Feller’s Master-Stroke dan Nevermore, sebenarnya menjadi jejak penting menuju Bohemian Rhapsody," ungkap May.
"Bohemian Rhapsody sudah lama ada di kepala Freddie. Ia mencatat lirik lagu itu di sebuah buku notes milik ayahnya. Freddie bermain di piano sembari mengarahkan kami," ujar Taylor. Menurut May, tidak ada yang berani membicarakan soal lirik Rhapsody karena Mercury seperti sudah yakin dengan penemuannya itu.
"Ketika merekam lagi itu, kami benar-benar tegang dan lelah. Kami memang mesti bersikap kompetitif dalam persaingan dengan band-band lainnya. Kami masing-masing juga terpaksa berupaya membuat lagu-lagu sendiri yang bisa dijual, saya waktu itu sangat repot menulis The Prophet’s Song. Freddie sibuk dan sangat terobsesi dengan lagunya sendiri," tutur May lagi.
Menurut Guinness World Records yang mengadakan penelitian yang melibatkan 31.000 orang tahun 2002, Rhapsody menjadi single terfavorit di Inggris. Apa sebetulnya sukses Rhapsody?
May menjawab, setiap orang, termasuk dirinya, memiliki interpretasi masing-masing terhadap magnum opus tersebut. Bahkan, May yang belum lama ini resmi menjadi doktor bidang ilmu astronomi, mengaku sampai sekarang ia tidak mau mengungkapkan secara terbuka apa pandangannya terhadap karya besar sahabatnya itu.
KARYA Led Zeppelin, Stairway To Heaven, sampai sekarang masih memegangrekor sebagai lagu yang tersering diperdengarkan di radio di Amerika Serikat. Karya ini berada di dalam album keempat Zeppelin yang dengan sengaja tidak diberikan judul dan sering disebut sebagai Untitled atau Zoso.
Adalah gitaris Zeppelin, Jimmy Page, yang bersiasat tidak mau menjuduli album ini karena muak dengan kritik yang dilancarkan para pengamat dan pers terhadap tiga album sebelumnya. "Biarkan saja album ini tidak berjudul supaya mereka bingung sendiri," ujar Page.
Sampai sekarang, setidaknya ada tiga versi yang dipercaya sebagai makna di balik lagu Stairway ini. Pertama, vokalis Robert Plant hanya berusaha menuangkan karya-karya pujangga Inggris, JRR Tolkien, yang terkenal berkat trilogi The Lord Of The Rings.
Versi kedua, menurut analisis harian The New York Times yang mewawancarai para pakar menyebutkan bahwa "tangga menuju surga" yang dimaksud dalam lagu itu sesungguhnya hanya mengajak orang-orang bernarkotika. Memang Page dan Plant dikenal sebagai pemadat berat, bahkan John Bonham (drum) mati gara-gara menelan sendiri muntahnya setelah mencampur alkohol dengan kokain.
Versi paling menyeramkan menyebut Stairway merupakan lagu tema untuk pemujaan kepada setan. Kalau didengarkan dengan membalik arah putaran jarum mesin pemutar piringan hitam, Plant katanya mengatakan "here to my sweet satan" ketika menyebut kalimat Stairway To Heaven.
Bukan cuma Zeppelin saja yang dikonotasikan sebagai pemuja setan, Rolling Stones pun dengan terang-terangan menulis karya Sympathy For The Devil yang diterjemahkan kira-kira artinya "simpati kepada setan". Padahal, niat Mick Jagger dan Keith Richards ketika menulis lagu itu di rumah Charlie Watts (drum) hanya ingin menciptakan sebuah lagu reggae.
Sementara karya Pink Floyd, Shine On You Crazy Diamond, merupakan sebuah persembahan bagi pendiri grup rock progresif itu, Syd Barrett. Nomor epik ini dibagi menjadi sembilan bagian, dibuka dan diakhiri dengan permainan kibor Rick Wright dan gitar David Gilmour serta Roger Waters sebagai vokalis.
Nasib Barrett sungguh tragis karena akhirnya menjadi kurang waras akibat terlalu banyak menenggak narkotika. Sebagai pendiri, gitaris, dan sekaligus vokalis, Barrett beberapa kali sempat tidak mampu melakukan tugasnya di panggung dan hanya menatap kosong ke arah penonton.
Untuk memperkuat Pink Floyd, maka Waters, Wright, dan Nick Mason (drum) merekrut Gilmour. Namun, tak lama setelah Gilmour mengukuhkan peranannya sebagai pengganti, Barett didepak.
Ironisnya, ketika Waters dan rekan-rekannya sedang merekam Shine On yang merupakan bagian bagian dari album Wish You Were Here (1975), Barrett tiba-tiba muncul di studio. Semuanya mendadak terdiam sebelum Barrett membuka pembicaraan dengan mengucapkan apa kabar.
Setelah itu, tanpa terasa air mata Waters tergenang. Setelah berbicara mengenai berbagai macam topik, sementara Barrett agak sulit memahami isi obrolan mereka, Barrett pun permisi. Sejak itu, Waters dan rekan-rekannya bertekad akan mengurusi kebutuhan finansial Barrett yang masih belum menikah dan tinggal bersama ibunya.
Berbicara tentang Pink Floyd, adalah sang gitaris Gilmour yang menemukan penyanyi bervokal indah bagaikan malaikat bernyanyi yang bernama Kate Bush. Urutan keenam daftar lagu rock epik terbaik diduduki Wuthering Heights yang menjadi hit terbesar Kate Bush.
"Saya menulis lagu itu pada suatu malam. Waktu itu kebetulan bulan sedang terang," tutur Kate Bush. Dengan suara falsetto dia yang khas, Wuthering Heights bercerita tentang sebuah cinta yang gagal yang bernuansa gelap.
Lalu di tempat ketujuh ada A Day In The Life yang merupakan karya The Beatles yang ditulis oleh John Lennon. Nomor yang terdapat dalam album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967) ini dibuka dengan gitar akustik dan piano dan diakhir oleh sebuah crescendo sebuah orkestrasi.
Judul lagu itu diinspirasi oleh berita tragis di sebuah koran yang dibaca Lennon tentang tewasnya seorang gadis yang juga pewaris sebuah perusahaan besar di Inggris. Makanya Lennon di awal lagu mengatakan, "I read the news today, oh boy."
Di peringkat ke-11 sampai ke-13 ada Heroes And Villains (The Beach Boys), American Pie (Don McLean), dan River Deep, Mountain High (Ike and Tina Turner). Lalu setelah itu Layla (Derek And The Dominos), Black Sabbath (Black Sabbath), dan Space Oddity (David Bowie).
Layla merupakan lagu karya Eric Clapton yang ditujukan untuk Patti Boyd, istri sahabatnya sendiri, George Harrison si gitaris The Beatles. Lagu ini sebenarnya merupakan rintihan sebuah cinta yang tidak terbalas, walaupun akhirnya Clapton-atas seizin Harrison-mendapatkan Patti yang dia inginkan.
Waktu itu Clapton memakai bendera Derek And The Dominos yang akhirnya bubar tahun 1971. Setelah itu, Clapton bersama Patti memencilkan diri dan tenggelam di dunia narkotika yang nyaris beberapa kali mengakhiri nyawa mereka.
Sedangkan Space Oddity karya David Bowie merupakan cerita petualangan seseorang, Major Tom, ke luar angkasa. Bowie melalui nomor ini kembali mengenalkan kepada para penggemar betapa sebuah instrumen musik yang bernama Mellotron mengandung begitu banyak potensi untuk dituangkan ke dalam karya musik.
SEBENARNYA, pemanfaatan teknologi kibor sudah sering dilakukan secara maksimal oleh sebuah kelompok rock progresif asal Inggris, Emerson, Lake and Palmer (ELP). Salah sebuah nomor mereka, Fanfare For The Common Man, yang merupakan adaptasi dari Aaron Copland masuk ke urutan ke-18 daftar 50 lagu rock epik terbaik sepanjang masa.
Sayangnya, Fanfare hanya bercokol di urutan kedua tangga lagu di Inggris. Namun, pada saat itu musik rock klasik memang berada dalam posisi defensif akibat serbuan dari musik dan kultur punk yang mewabah ke mana-mana.
Keith Emerson sejak kecil sudah bermain piano. Setelah dikenal secara nasional lewat The Nice, Emerson membentuk ELP bersama dengan Greg Lake (vokal/bas/gitar) dan Carl Palmer (drum/perkusi).
Perkenalan Emerson dengan Robert Moog, seorang ahli suara kibor, membuat ELP sebagai pemanfaat teknologi musik yang paling maju saat itu. ELP juga dikenal sebagai kelompok yang sangat padu mencampur rock ‘n’ roll dengan musik klasik hasil karya komposer-komposer besar seperti Copland atau Sergey Prokofiev.
Dua kelompok rock progresif yang warna musiknya kurang lebih sama dengan ELP adalah King Crimson dan Yes. Lagu King Crimson, The Court Of The Crimson King, masuk ke urutan ke-23 daftar 50 lagu rock epik terbaik sepanjang masa. Sementara karya Yes, The Gates Of Delirium, berada di peringkat ke-25.
Delirium dimuat di dalam album Relayer (1975). Waktu itu Yes diperkuat oleh Jon Anderson (vokal), Steve Howe (gitar), Chris Squire (bas), Alan White (drum), dan Patrick Moraz (kibor). Formasi ini merupakan perubahan cukup penting karena Rick Wakeman, kibor yang kala itu dianggap sebagai yang terbaik di dunia, meninggalkan Yes karena perbedaan konsep musik.
Delirium ditulis oleh Anderson yang antara lain terinspirasi oleh karya Leo Tolstoy, War And Peace dan juga oleh Tolkien. Oleh sebab itu, karya ini sangat berisik namun indah, terdiri dari potongan-potongan cerita musik yang tetap beralur rapi, dan menjadi kesempatan emas bagi seluruh personel untuk melakukan interpretasi musikal yang bebas.
Bayangkan, Delirum diciptakan sekitar 30 tahun yang lalu. Tetapi, ketika Yes kembali membawakan karya itu dalam konser mereka bersama sebuah orkes lengkap tiga tahun lalu, Delirium yang berdurasi sekitar 20 menit itu bagaikan sebuah karya "baru" yang membuat heboh panggung dan penonton. Lebih hebatnya lagi, seluruh personel (kecuali Moraz) tetap bermain prima sekalipun tempo Delirium agak diperlambat sedikit.
Nah, itulah sekelumit cerita tentang 50 daftar lagu rock epik terbaik sepanjang masa yang disuguhkan oleh tim wartawan Mojo. Daftar ini merupakan versi mereka yang tentunya bersifat subyektif dan antara lain juga ditafsirkan berdasarkan selera pribadi yang tidak bisa digugat dengan nalar sehat. Namun, seperti kata Ian Gillan, vokalis Deep Purple, yang penting adalah "keep on rocking and keep it alive!" (budiarto shambazy)
