Pelangi Sang “Drakula”

September 11, 2006

Tak banyak musisi yang meraih sukses bersama lebih dari satu band yang dibentuknya. Salah satunya, Richard Hugh Blackmore alias Ritchie Blackmore. Dua band bentukannya, Deep Purple (pada 1968) dan Rainbow (1975), sukses di panggung musik rock internasional maupun pada penjualan album-album mereka. Ritchie, Jimmy Page, Eric Clapton, Jeff Beck, dan Peter Green, sering dianggap sebagai para "dewa gitar" Inggris.

Purple meraih masa keemasan di era 1970-1974, ketika Ritchie menjadi motornya. Riff karyanya di lagu Smoke On The Water (1972), menurut jajak pendapat Q Magazine, menjadi satu dari 100 lagu paling berpengaruh di dunia. Dan, pada April 1999 para penonton Chrysalis TV Special menempatkan Deep Purple dan Rainbow dalam daftar 10 besar band rock sepanjang masa.

Ritchie yang lahir di kota pesisir Weston-Super-Mare (Inggris) pada 14 April 1945, dua tahun kemudian bersama keluarganya pindah ke Kota Heston Middlesex. Pada usia 9 tahun ia dibelikan sebuah gitar oleh sang ayah. Ia kemudian dengan tekun mempelajari gitar klasik.

Bengal dan genius merupakan dua sosok yang ada pada satu pribadi Ritchie. Di satu sisi ia tak jarang diancam akan dipecat oleh kepala sekolahnya, tetapi di sisi lain ia justru kerap dapat penghargaan lantaran prestasinya yang gemilang. "Pada saat umur 14, saya sudah tak tahan untuk ngeband," katanya. Maka, Ritchie kecil pun memutuskan untuk minggat dari sekolahnya.

Pada awal 1960-an Ritchie bergabung dalam kelompok Screaming Lord Sutch, band profesional pertamanya. Lalu, sempat juga singgah di band-band, seperti The Outlaws, The Three Musketeers, serta Neil Christian & The Crusaders (di sini konon ia sempat main bersama Jimmy Page), sebelum akhirnya bergabung dengan Jon Lord, Ian Paice, Rod Evans, dan Nick Simper dalam Roundabout, yang kemudian menjadi Deep Purple pada 1968.

Setelah tujuh tahun bersama Purple, Ritchie mulai jenuh. Pada akhir 1974 ia mulai merintis solo karier. Saat para personel Purple lainnya tengah sibuk menggarap album Stormbringer (1974), Ricthie justru kasak-kusuk menyiapkan album solo bersama Ronnie James Dio dan Gary Driscoll (vokalis dan pemain drum kelompok Elf asal Amerika Serikat).

Ritchie sangat kecewa pada Stormbringer lantaran di album ini Purple kelewat banyak memasukkan unsur funky-soul, jenis musik yang paling dibencinya. Stormbringer menjadi album Purple pertama di mana Ritchie tak terlibat penuh dalam penulisan lagu dan musiknya. Secara terbuka ia sering melampiaskan kekecewaannya, dan menyebut Purple telah menjelma menjadi a funk band.

Kendati berusaha ditutupi oleh manajer dan personel Purple lainnya, niat Ritchie meninggalkan Purple sempat tercium oleh pers. Pada akhir 1974, adalah media musik Inggris, Sounds, yang pertama kali menulis, "it was disclosed this week that… Ritchie Blackmore is to leave Deep Purple." Lord dan Paice nyaris mengikuti jejak Ritchie pada 1975. Tetapi, kata Ritchie, "walau saya berhenti. Purple harus jalan terus." Kekecewaan Ritchie juga lantaran keinginannya untuk memasukkan lagu Black Sheep Of The Family (karya grup Quatermass) dalam Stormbringer ditolak anggota Purple lainnya.

Tanggal 12 Desember 1974, Ritchie, Dio, dan Driscoll, merekam lagu Black Sheep Of The Family dan Sixteenth Century Greensleeves di Tampa Bay, Florida. Ia sangat puas dengan hasil rekaman ini, yang tentu saja makin menebalkan niatnya untuk hengkang dari Purple dan mendirikan band baru. Semula ia ingin membentuk trio bersama Paice dan Phil Lynott (Thin Lizzy). Ia membayangkan trio ala Jimi Hendrix Experience dengan Lynott sebagai pemain bas merangkap vokalis.

Tetapi, setelah menyaksikan penampilan Elf, Ritchie justru lebih tertarik untuk berkolaborasi dengan band yang tengah diorbitkan Roger Glover ini. Maka, setelah meninggalkan Purple, pada Mei 1975 ia langsung mendeklarasikan band barunya, Ritchie Blackmore’s Rainbow-yang sekaligus menjadi judul album pertamanya yang dirilis Agustus 1975-dengan mencomot para anggota Elf, kecuali pemain gitarnya.

Semula banyak yang sinis pada band barunya, yang dipandang tak akan lebih dari sekadar penjiplak Purple. Ternyata dugaan ini meleset. Rainbow mampu membuktikan dirinya bukan imitasi Purple. Saat itu musik Rainbow banyak mengangkat tema dan warna musik Inggris Raya abad ke-15 yang diramu dengan hard rock, bahkan lebih garang. Album Ritchie Blackmore’s Rainbow pun berhasil menembus peringkat ke-11 di Inggris dan ke-30 di Amerika.

Namun, sulit dibantah jika Rainbow dianggap sebagai semacam "reinkarnasi" dari kejayaan Purple. Bedanya, jika dalam Purple ia mesti "berbagi" perhatian dengan rekan-rekannya, maka di Rainbow ia menjadi "penguasa tunggal yang otoriter". Rainbow adalah Ritchie Blackmore. Tak heran jika dalam kurun waktu sembilan tahun periode pertama (1975- 1984) dan tiga tahun periode berikutnya (1994-1997), ia menjadi satu-satunya anggota permanen Rainbow.

Pada 1975-1984, tak kurang dari 17 musisi (3 vokalis, 4 pemain drum, 5 pemain kibor, 5 pemain bas) yang masuk dan keluar dari Rainbow, tentu sesuai kehendak Ritchie. "Saya seperti drakula saja. Saya mengisap darah begitu banyak musisi dan ketika darah mereka kering saya enyahkan mereka semua," katanya (Budiarto Shambazy dalam buletin M-Claro, Oktober 1999). Hasilnya memang luar biasa. Dari 8 album studionya, 4 di antaranya berhasil menembus 10 besar di Inggris dan 3 lainnya mampu bertengger di peringkat ke-11. Hanya album terakhir (Stranger In Us All) yang kurang berhasil.

Cozy Powell, mantan pemain drum Jeff Beck Group, menjadi anggota terlama Rainbow (1975-1981) di luar Ritchie. Sedangkan Dio yang ikut mendirikan Rainbow, hanya bertahan 3,5 tahun lantaran tak tahan menjadi "orang kedua" melulu. Pada era Dio-Powell, Rainbow sempat mencetak sejumlah hit, seperti Man On The Silver Mountain, Catch The Rainbow, Still I’m Sad (karya Yardbirds), Temple Of The King, Sixteenth Century Greensleeves, Stargazer, dan Kill The King.

Rainbow formasi 1 (yang lebih tepat disebut Ritchie + Elf) hanya bertahan satu album. Blackmore kemudian merombak total formasi Rainbow untuk album ke-2, Rising (1976), dengan "memecat" 3 dari 4 mantan Elf, dan merekrut Powell, Tony Carey (kibor), dan Jimmy Bain (bas). Menjelang pembuatan album ke-3 (Long Live Rock’n’Roll, 1978), Ritchie merekrut pemain kibor baru, David Stone serta Bob Daisley (bas). Begitu seterusnya. Hampir setiap tahun ada perombakan formasi.

Sang "drakula" memang selalu ingin menemukan line-up yang sempurna. "Carey menganggap saya benar-benar orang gila yang ingin membunuhnya. Saya tak tau kenapa dia berpikiran seperti itu," kata Ritchie. Ketika Dio pun keluar, Ritchie konon sempat mengajak mantan kolega sekaligus seterunya di Purple Mark 2, Ian Gillan, untuk bergabung. Sudah tentu Gillan menolak (di kemudian hari ia justru menerima tawaran Tony Iommi untuk memperkuat Black Sabbath).

Graham Bonnet dipilih menggantikan Dio. Pada saat yang sama Ritchie mengajak Glover di posisi bas sekaligus membantu penulisan lirik. "Saya paling tak bisa menulis lirik," aku Ritchie. Bonnet hanya bertahan untuk satu album (Down To Earth, 1979), dan digantikan Joe Lynn Turner yang juga sempat memperkuat Purple (1990-1992). Menurut Paice, Turner yang berlatar belakang American pop music sebenarnya kurang pas untuk band yang berbasis European rock and roll.

Akan tetapi, pilihan Ritchie pada Turner lantaran sang "man in black" ini kurang menyukai Bonnet-yang gemar berambut pendek, jaket warna putih, dan kaus bermotif bunga. Tetapi, bersama Bonnet, Down To Earth justru melesat ke peringkat ke-6 di Inggris, dan menjadikan Since You’ve Been Gone (yang ditulis Russ Ballard eks vokalis Argent) serta All Night Long sebagai hit mereka. Di sisi lain, perubahan warna musik Rainbow pasca-Dio yang cenderung lebih "soft" dan komersial menjadi penyebab keluarnya Cozy pada November 1980.

Sejak itu, praktis hanya Glover dan Turner yang bertahan mendampingi Ritchie hingga berakhirnya era Rainbow periode pertama. Pada April 1984, Ritchie membekukan Rainbow untuk-setelah dijanjikan bonus 2 juta dollar AS-bergabung dalam reuni Purple (Mark 2). Tetapi, 9 tahun kemudian ia keluar lagi dari Purple, dan pada akhir 1994 mengaktifkan kembali Ritchie Blackmore’s Rainbow.

Setelah sempat merilis satu album dan melakukan serangkaian tur, pada 1996 Ritchie memutuskan untuk sama sekali berhenti ngerock. Bersama sang pacar, Candice Night, ia kemudian membentuk kelompok folk Blackmore’s Night, yang sepenuhnya berkiblat pada authentic Renaissance music, yang berbeda dari Rainbow maupun Purple. "Musik mereka sangat introvert," kata Gillan.

Ritchie, seperti diakuinya sendiri, memang seorang yang sensitif, tetapi sekaligus self-destructive. Ia membenci bisnis, disc jockey, radio, dan pers. Komentar-komentarnya pun sering menyakitkan. Ia mengaku menyukai Yardbirds dan Led Zeppelin. Tetapi, Rolling Stones? "Saya kira mereka para idiot dan penyontek Chuck Berry. Namun, saya respek kendati tak menyukai Stones," katanya. Di atas panggung pun ia tak jarang menghancurkan gitar kesayangannya. "Saya menghancurkan gitar kalau saya lagi mau menghancurkan," katanya enteng.

Riza Sihbudi Penggemar Deep Purple

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0401/16/Musik/804616.htm

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://ronnie.blogsome.com/2006/09/11/34/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here