Berakhirnya Musim “Summer of Love”
Brian Jones sang pendiri Rolling Stones meninggal dunia, The Beatles di ambang berantakan, konflik senjata terjadi di Vietnam, Nigeria, sampai Cekoslovakia. Pada akhir Juli 1969 Summer of Love yang berlangsung selama sekitar dua tahun berakhir sudah.
Di tengah rasa kehilangan dan ketakutan, perjalanan musik memulai sebuah makna yang baru. Misalnya saja, sekitar 300.000 orang di Washington DC, Amerika Serikat (AS), melancarkan protes dengan menyanyikan koor Give Peace a Chance karangan John Lennon.
Di hadapkan dengan realitas global yang lebih mengandung ketidakpastian, kultur psikedelik sudah tidak relevan lagi. Meskipun Lennon menyatakan the dream is over, masih ada generasi yang terus berkutat ingin mempertahankan budaya eksperimentasi yang dilanjutkan oleh aliran psikedelik tersebut.
Di Inggris, para musisi yang penggemarnya seperti mesti memilih antara dua opsi. Pertama, kembali ke akar orisinal yang masih dipertahankan secara autentik oleh Bob Dylan, misalnya. Pilihan kedua, tetap memuja sekaligus mempertahankan fantasi musik rock’n’roll itu sendiri yang telanjur berkembang menjadi rock progresif atau progrock.
Majalah Mojo menulis bahwa banyak hal yang ganjil terjadi sejak 1967. Hal yang paling ganjil yang terjadi adalah kebangkitan rock’n’roll ala 1950-an yang dibawakan The Beatles lewat Lady Madonna yang berbau pengaruh musisi AS, Fats Domino. Lalu The Move yang menulis Fire Brigade yang mirip dengan karya Eddie Cochran atau The Dave Clark Five yang secara jelas memuja-muji lewat Good Old Rock’n’Roll.
Ibaratnya, tahun 1967 itu tiba-tiba menjadi seperti 1962. Tahun 1968 Dylan kembali ke akar musik country-antara lain diwakili dengan gitar akustik-lewat karya John Wesley Harding. Sementara band pendukung dia, The Band, mencampur musik akustik dengan rock yang keras yang mirip dengan musik Eric Clapton.
The Byrds, yang dianggap sebagai pesaing The Band dan Dylan, juga terjebak kembali ke dalam pengaruh musik country. Dan tak lama kemudian, Grateful Dead dan Frank Zappa pun menjalani proses yang sama, masing-masing melalui lagu seperti American Beauty dan Cruising with Ruben & The Jets.
Di Inggris, Fairport Convention menemukan arah musik rakyat (folk music) antara lain lewat lagu Liege and Lief. Begitu juga Steve Winwood-yang baru saja selesai berkarya bersama Blind Faith-yang merilis album musik rakyat bertajuk John Barleycorn Must Die bersama grup baru dia, Traffic.
Di dunia blues tak banyak yang berubah. Fleetwood Mac memang lebih nge-pop dibandingkan dengan pendirinya, Peter Green yang tetap setia kepada blues. Rolling Stones sebagai penemu blues ala Inggris yang ikut-ikutan kultur psikedelik secara spektakuler kembali ke musik asalnya dengan album Their Satanic Majesties Request yang berciri blues lagi.
Di album itu terdapat singel Jumpin’ Jack Flash yang dirilis Juni 1968 dan langsung melompat ke tangga teratas di Inggris dan bertahan sampai dua tahun kemudian. Stones menjadi raja kembali lewat beberapa nomor dari album Satanic yang membuat gila penggemar blues, seperti Sympathy for the Devil, Gimme Shelter, dan Honky Tonk Women.
Di Woodstock, pesta rock’n’roll dimeriahkan oleh Sha Na Na dan gitaris Ten Years After, Alvin Lee, yang menulis nomor genius I’m Goin’ Home. Di festival tersebut The Who menyanyikan pula Summertime Blues karya Cochran.
Pergerakan "kembali ke akar" ini ditandai pula oleh beberapa karya menarik, seperti album Pin-Ups karya David Bowie atau Rock’n’Roll milik Lennon atau Self Potrait oleh Dylan. Di saat yang bersamaan, gejala back to basics itu ditunjukkan pula oleh grup-grup baru seperti Led Zeppelin atau Black Sabbath.
Pendek kata, kultur psikedelik saat itu sedang tercekik. Mirip dengan lirik lagu Get Back dari album Let It Be karangan Lennon dan Paul McCartney dari The Beatles: get back to where it once belong.
SALAH satu tempat kelahiran musik progrock sebagai kelanjutan dari musik psikedelik adalah di UFO Club ketika Pink Floyd mengintrodusir Interstellar Overdrive. Pada awalnya musik psikedelik dimaksudkan untuk membuat karya jenis itu "lebih bergengsi" seperti yang ditunjukkan oleh My Friend Jack Eats Sugar Lumps karya The Smoke atau Granny Takes a Trip karya Purple Gang.
Namun, kepura-puraan para musisi yang gemar mabuk narkotik sembari berkhayal untuk menciptakan musik psikedelik itu perlahan-lahan memudar menjadi progrock. Steve Marriott mengawali progrock dengan Ogdens’ Nut Gone Flake, sementara Velvet Underground menghasilkan Sister Ray.
Ketika itu memang sering beredar bermacam-macam teori mengenai apa perbedaan antara musik psikedelik dan progrock. Terdapat kesan, seolah-olah musik psikedelik cuma bisa diciptakan oleh musisi yang sedang stoned alias mabuk kepayang.
Teori yang ngawur itu segera dipatahkan oleh slogan "apa yang bisa dicapai oleh narkotik juga bisa dicapai oleh cara-cara lain". Oleh sebab itu, Pink Floyd yang tanpa Syd Barrett yang menjadi "sakit" gara-gara narkotik, misalnya, justru menghasilkan karya-karya progrock yang bebas narkotik.
Apalagi, pada masa 1967-1969 itu polisi di London (Inggris) sering melancarkan razia terhadap musisi yang dicurigai memakai narkotik. Ketatnya pengawasan aparat yang berwenang tersebut juga menjadi faktor yang memengaruhi para musisi untuk lebih konsentrasi kepada arah musiknya agar laku dijual tanpa pengaruh narkotik.
Sesungguhnya, istilah musik progresif (progrock) diperkenalkan oleh para eksekutif perusahaan-perusahaan rekaman. Mereka mengintrodusir istilah "keren" itu dengan harapan agar para musisi tidak diasosiasikan dengan narkotik-juga sekaligus menjadi kampanye antinarkotik.
Selain Frank Zappa di AS, progrock di Inggris diperkaya oleh musisi seperti Keith Emerson yang memperkuat The Nice, atau oleh lagu A Whither Shade Of Pale karya Procol Harum. Sejak masa inilah istilah progrock serta-merta menjadi mendunia seperti kotak pandora yang untuk pertama kalinya terbuka.
Musik progrock tidak lalu identik dengan karya yang lebih baik, justru banyak artis baru yang berpura-pura progresif sekalipun menulis lirik saja belum tentu mampu. Di lain pihak, musisi seperti Emerson, Jon Lord, atau Rick Wakeman menjadi penggagas awal dari perkembangan progrock itu sendiri.
Bahkan, progrock mengawal pula tumbuhnya musik-musik baru seperti pop klasik yang ditawarkan oleh Wakeman atau neoklasik Night Of Fear karya The Move. Sebagian lagi, misalnya The Who, menelurkan karya yang lebih rumit yang berskala besar seperti album opera rock Tommy.
Banyak yang menyebut masa ini sebagai "era persilangan" antara musim psikedelik 1967-1969 dan musik progrock, yang terus bertahan sampai dekade 1970. Tetapi, jika kembali ke soal back to basics, ada dua mahakarya yang patut dicatat bersamaan dengan berakhirnya musim Summer of Love itu.
Pertama, Let It Be karya The Beatles yang proses pembuatannya tidak lama setelah rekaman Dylan bersama The Band, The Basement Tapes. Tiga pekan sebelum rekaman Let It Be di awal 1969, George Harrison sempat menghabiskan waktu bersama Dylan dan The Band di AS.
Kepada Lennon, McCartney, dan Ringo Starr, Harrison menceritakan dengan panjang lebar "pengalaman batin" dia bersama Dylan dan The Band. Perubahan lain yang juga menonjol yang diperlihatkan Harrison kala itu adalah sikap dia yang dengan berani menantang Lennon serta McCartney dengan mengundurkan diri dari The Beatles.
Satu tahun kemudian, The Beatles bubar. Meskipun begitu, Lennon, McCartney, Harrison, dan Starr melancarkan karier sendiri-sendiri yang terbilang sukses.
Dylan sampai sekarang masih saja tetap bekerja, sementara progrock semakin hari semakin merajalela. Summer of Love boleh berakhir, tetapi kejayaan generasi psikedelik 25 tahun yang lalu, seperti kata Lennon, tidak akan pernah berakhir sampai kini. (bas)
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/10/Musik/1427623.htm
