God Bless, Setelah 31 Tahun

October 7, 2006

SELAMA 31 tahun perjalanan God Bless, yang bisa dicatat antara lain adalah grup rock ini bukan hanya melahirkan seorang Achmad Albar. Akan tetapi, ia juga memunculkan sederetan pemusik yang sangat menentukan warna industri musik negeri ini.

FORMASI pertama muncul di Taman Ismail Marzuki (TIM), 5 Mei 1973, terdiri atas Achmad Albar (vokal), Fuad Hassan (drum), Ludwig Lemans (gitar), Donny Fattah (bas), dan Jockie Soeryoprayogo (kibor). Jockie adalah pencipta lagu dan pemusik yang memberikan variasi industri pada musik rekaman dengan Badai Pasti Berlalu (1978) dan Kantata Takwa (1990). Warna musik Jockie, yang dominan dengan suara kibor, sempat mempengaruhi tren musik rekaman yang mengiringi sejumlah penyanyi pada ujung tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an.

Gebrakan God Bless dalam pertunjukan perdananya di TIM memperoleh sambutan hangat. Majalah Aktuil edisi akhir Mei 1973 lewat Bill dan Z Zappha mencatat, "Saling mengisi antara petikan gitar Ludwig (Lemans) yang keras, mantep, dan tegas dalam memberi aksen dengan drummer top Fuad membuat harmonisasi lagunya baik sekali. Apalagi, kalau Albar tarik suara, dia mampu dari suara rendah langsung pindah ke tarikan suara tinggi, seperti kemampuan yang dimiliki Roger Daltrey, Robert Plant, atau Ian Gillan."

Kemudian, lanjut kedua wartawan itu, "Rasanya God Bless kalau latihannya konstan akan mampu menjadi top group kita, malah siapa tahu bakal menjadi supergroup Indonesia? Lagu-lagu dibawakan adalah Take A Free Ride, Eleanor Rigby, Sittin’ Here, Trying To Get Away, Round About, Fresh Garbage, Ohio, Freedom Jazz Band, dan Dance To The Music. Tidak satu lagu pun yang dibawakannya secara asal jadi."

Deddy Dores yang menggantikan Jockie ketika God Bless tampil di Summer 28 adalah pencipta lagu dan penata musik yang melahirkan sejumlah penyanyi, antara lain Nike Ardila. Nike membawakan karya Deddy seperti Seberkas Sinar (1989), Bintang Kehidupan (1990), dan Nyala Api (1992).

Pulangnya Ludwig ke Belanda menyebabkan Deddy mengambil alih posisi gitaris. Sementara anggota baru, Soman Lubis, masuk sebagai pemain kibor menggantikan Deddy. Ketika Soman keluar, Deddy kembali pada kibor, sementara Donny beralih pada gitar dan Deddy Stanzah masuk menjadi pemetik bas.

Fuad dan Soman meninggal dunia menyusul sebuah kecelakaan di Bundaran Pancoran Tebet tanggal 9 Juli 1974. Albar dan Donny mencari anggota baru dan pilihan jatuh pada Nasution bersaudara, yang sebelumnya dikenal sebagai personel-personel grup Gipsy yang kemudian menjadi Gank Pegangsaan.

Mereka adalah Keenan (drum), Odink (gitar), dan Debby (kibor). Sebagai penyanyi, Keenan berhasil melambungkan namanya lewat album Nuansa Bening (1979), sedangkan Odink mendirikan Cockpit yang khusus membawakan lagu-lagu Genesis. Sementara Debby dikenal sebagai seorang penata musik.

Seusai formasi ini, Jockie kembali bergabung bersama Ian Antono dan Teddy Sudjaya pada tahun 1995. Pada formasi inilah God Bless membuat musik untuk film Laila Majenun, yang kemudian salah satu lagunya mengisi album pertama God Bless, Huma Di Atas Bukit.

Meskipun di atas panggung mereka enggan membawakan lagu-lagu rock dalam bahasa Indonesia, ketika tiba saatnya masuk studio rekaman Tri Angkasa di Jakarta tahun 1976, Albar membawakan juga lima lagu berlirik Indonesia: Huma Di Atas Bukit, Rock Di Udara, Sesat, Gadis Binal, dan Setan Tertawa. Tiga lagu lainnya dalam album perdana ini berbahasa Inggris: Eleanor Rigby, Friday On My Mind, dan She Passed Away.

"Dan musik pekak telinga ini ternyata telah digempa kembali oleh grup rock Jakarta, setelah Bandung muncul via nama Giant Step dan Jakarta diwakili grup Barong yang punya kandang di Jerman.

Dengan begitu, berarti God Bless merupakan grup hard rock ketiga yang naik kaset/PH (piringan hitam) dengan konsep musiknya sendiri dalam arti: merdeka! Terlepas sama sekali dari giringan cukong," tulis Bens Leo, yang sekarang menjadi pengamat musik, di majalah Aktuil edisi Mei 1976.

Gonta-ganti

Album kedua God Bless baru lahir lima tahun kemudian, yakni Cermin, yang berisi sembilan nomor: Selamat Pagi Indonesia, Cermin, Musisi, Balada Sejuta Wajah, Sodom Gomorah, Anak Adam, Insan Tersesat, Ingat, dan Tuan Tanah. Dalam album ini, Jockie digantikan oleh Abadi Soesman.

Setelah album ini, God Bless berganti formasi beberapa kali sebelum melahirkan album berikutnya, Semut Hitam (1988). Dalam sejumlah pertunjukan, Abadi masih sempat ikut sebelum digantikan oleh Dodo Zakaria.

Promotor Ais Suhana menampilkan Dodo di atas panggung bersama God Bless tahun 1985. Ais pula yang kembali menaikkan God Bless ke atas panggung tahun 2002, dengan suntikan dua anggota baru, Inang Noorsaid dan Iwang Noorsaid, untuk pertunjukan di beberapa kafe. Formasi ketika itu adalah Albar (vokal), Ian (gitar), Donny (bass), Iwang (kibor), Abadi (kibor), dan Inang Noorsaid (drum). Addie MS, yang sekarang sukses memimpin Twilite Orchestra, sempat juga menjadi pemain kibor God Bless ketika grup ini manggung di TIM tahun 1981.

Dodo yang lebih dikenal sebagai pencipta lagu dan penata musik, antara lain lewat Di Dadaku Ada Kamu untuk Vina Panduwinata, kemudian angkat kaki dan Jockie masuk lagi menggantikannya. Sementara posisi Donny yang sedang belajar di Amerika Serikat tahun 1982 hingga 1985 digantikan adiknya sendiri, Rudy Gagola, sebagai pemetik bas ketika God Bless manggung di Taman Ria Senayan tahun 1983.

Yang agak aneh, Ian, Albar, Jelly Tobing (drum), Rudy (bass), dan Debby (kibor) sempat juga manggung di Balai Sidang tanpa mau disebut sebagai God Bless pada kurun waktu yang sama. Sementara Donny pulang ke Tanah Air dan kembali bergabung.

Lahirlah Semut Hitam yang diterbitkan Logiss Records tahun 1987 dan berisi 10 lagu: Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, Damai Yang Hilang, Orang Orang Kaca, Ogut Sumping, Suara Kita, Badut Badut Jakarta, Bla…Bla…Bla…, dan Trauma. Formasi God Bless pada album ketiga ini sama seperti album pertama dan banyak yang menilai inilah salah satu formasi yang terbaik.

Di luar grupnya, Ian berkarya sama baiknya dengan God Bless. Ia mengawali karier di dunia rekaman dengan menggarap album Emilia Contessa (1973), Trio The Kings (1973), Neraka Jahanam (Dua Kribo, 1977), Pelacur Tua (Duo Kribo, 1978), dan Panggung Sandiwara (Dua Kribo, 1978).

Ian melambungkan karier penyanyi rock Sylvia Sartje lewat Biarawati tahun 1979, Grace Simon (Pelarian, Untukmu, 1979), Berlian Hutauruk (Runtuhan Keangkuhan, 1983), Hetty Koes Endang (Rindu, 1983), Freddy Tamaela (Ratna Sari Dewi, 1984), Ikang Fawzi (Randy & Cindy, Preman, 1983; dan Kita Bebas, 1984), Nicky Astria (Jarum Neraka, 1985; Tangan Tangan Setan, 1986; dan Gersang, 1989), Iwan Fals (Sumbang, 1986; Ethiopia, 1987; 1910, 1989; dan Mata Dewa, 1989). Ia juga menggarap sejumlah penyanyi lainnya seperti Bian Asegaf dan album-album solo Albar, termasuk Zakia.

Kolaborasi antara Ian dan Jockie sebenarnya bisa melahirkan inspirasi musik yang luar biasa. Sayang, Ian justru keluar dari God Bless ketika grup ini menghasilkan album yang keempat, Raksasa, yang juga diproduksi dan diedarkan Logiss Records tahun 1989.

Posisi Ian digantikan Eet Syahranie, gitaris Edane. Seluruh anggota God Bless berkarya dalam 10 lagu pada album ini: Maret 1989 (ciptaan Donny/Jockie), Menjilat Matahari (Jockie), Emosi (Eet/Albar), Cendawan Kuning (Jockie), 2002 (Jockie), Pemburu Illusi (Donny), Sang Jagoan (Jockie/Sawung Jabo), Anak Kehidupan (Jockie/Sawung Jabo), dan Raksasa (Teddy Sudjaya/Rudy/Jockie). Sawung Jabo adalah rekan Jockie di grup Kantata Takwa.

Album berikutnya harus menunggu waktu yang cukup lama, sekitar delapan tahun. Ian kembali bergabung sehingga anggota God Bless menjadi enam orang karena Eet tetap dipertahankan. Album Apa Kabar? yang berisi 10 lagu baru beredar tahun 1997.

Nomor-nomor album itu adalah Apa Kabar?, Anakku, Serigala Jalanan, Asasi, Diskriminasi, Roda Kehidupan, Pengamen Kecil, Balada Si Toha, Nurani, dan Kembali. Pemilik Logiss Records, Log Zhelebour, yang memproduksi album ini, bertindak tidak tanggung-tanggung.

Supaya rekaman lancar, semua anggota God Bless (Albar, Ian, Donny, Jockie, Eet, dan Teddy) dikarantina di kawasan Bogor. Peralatan rekaman seperti mixer dan alat-alat musik lainnya didatangkan ke sana dan mereka dibiarkan bekerja selama dua bulan.

"Supaya mereka bisa bekerja dengan tenang," alasan Log, meskipun untuk itu dia harus mengeluarkan biaya lebih banyak tanpa mau menyebutkan jumlahnya. Logiss Records yang dipimpinnya khusus menerbitkan rekaman musik rock. Generasi setelah God Bless yang diorbitkannya adalah Jamrud.

Log yang mengawali karier sebagai promotor pertunjukan musik rock selalu didukung sponsor Djarum Super. "God Bless adalah grup rock paling legendaris. Itulah salah satu alasan kami berminat mensponsori perjalanan turnya. Dan Jamrud adalah grup rock generasi baru yang potensial," kata Handojo, Manajer Senior Djarum Super, tentang dukungannya.

Pada awal perjalanan, untuk bisa tur, God Bless menyiapkan sendiri peralatan, lampu, maupun biaya operasional. Sponsor sebagaimana yang diperoleh Log dari Djarum Super sangat sulit diperoleh.

Pada masa sulit itu God Bless pernah dicukongi oleh Akuang atau Hendra Kusnadi, yang sekarang memiliki perusahaan peralatan lampu Mata Elang. Ia memenuhi kebutuhan lighting stasiun-stasiun televisi dan panggung pertunjukan yang spektakuler, seperti dalam beberapa kali pertunjukan Inul Daratista di Ancol tahun lalu dan konser Halloween awal tahun ini.

"Ketika saya bersama God Bless, pemasukan yang diharapkan hanya dari hasil penjualan karcis. Dari sponsor hanya kecil, perusahaan rokok belum jor-joran seperti sekarang," ujar Akuang.

Justru pada masa itulah God Bless teruji dan dipercayai mendampingi konser Deep Purple. Adalah Denny Sabri, wartawan majalah Aktuil, yang mendatangkan grup Inggris itu untuk berpentas di Stadion Utama Senayan, 5 Desember 1975. Sebelumnya, God Bless juga membuka pertunjukan penyanyi rock mungil Suzi Quatro asal Inggris di Balai Sidang, 15 dan 16 November 1975, yang didatangkan ke Indonesia oleh majalah Gadis.

"Kami masih muda ketika God Bless baru berdiri dan memang sangat bersemangat sehingga mengabaikan masalah keuangan. Saya mencuci rambut dengan sampo biasa dan bahan pakaian saja juga murah dan dijahit teman sendiri, tidak dari butik yang harganya mahal. Waktu itu kami mana punya duit," kenang Albar.

Perusahaan rokok seperti Sampoerna, Gudang Garam, dan Djarum Super yang berebutan menjadi sponsor pertunjukan penyanyi dan grup musik beberapa tahun belakangan ini tidak lagi menengok pada God Bless. Pada tahun 2002 God Bless berusaha dibangkitkan kembali oleh Ais sebagaimana dia sukses membangkitkan Koes Plus pada tahun 1993.

"Mestinya mereka punya konsep yang jelas karena mereka harus ingat penonton musik sekarang adalah anak-anak muda yang mungkin tidak tahu God Bless. Perusahaan rokok yang menjadi sponsor juga harus diyakini bahwa God Bless masih bisa dijual," ujar Ais, promotor yang biasanya melaksanakan konser di puluhan kota.

Setelah kembali dari sebuah pergelaran yang dihadiri puluhan ribu penonton di Kuala Lumpur, Malaysia, pada awal tahun 2004, God Bless belum kedengaran akan melakukan sesuatu. Setelah tujuh tahun, apakah mereka menghasilkan album yang keenam?

"Sebenarnya rencana sudah ada tahun 2001. Tetapi, sekarang mentah lagi," ujar Jockie tanpa memberi rincian lebih lanjut. Dan Ian juga enggan memberi komentar. Sementara Albar dan Donny tetap optimistis akan merilis album selanjutnya.

Namun, apakah mereka benar akan bersekutu kembali untuk sebuah album yang barangkali akan menjadi yang terakhir? Soalnya, usia mereka rata-rata sudah lebih dari setengah abad. Usia Albar 58 tahun, Donny 53, Abadi 53, Teddy 50, Ian 54, dan Jockie sudah 50 tahun.

Theodore KS Penulis Masalah Industri Musik
https://www.kompas.com/kompas-cetak/0403/19/Musik/918189.htm

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://ronnie.blogsome.com/2006/10/07/god-bless-setelah-31-tahun/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here